REVIEW: SINAR JAYA SUITE CLASS BUS

Awal bulan februari 2020 saya diharuskan pulang ke Surabaya untuk menemani Ayah & Ibu (saya memanggil mereka dengan sebutan Bapak & Mama) saya ke Lombok untuk menjenguk Om saya (Kakak bapak saya) karena harus di rawat di rumah sakit. Perjalanan saya pulang kali ini saya memutuskan untuk menggunakan transportasi darat PP tidak seperti biasanya saya selalu menggunakan pesawat minimal Batik Air atau Garuda Indonesia sebagai riders saya. Namun karena beberapa bulan ini pemasukan menipis disebabkan oleh saya beristirahat dari dunia kantor (Gak kerja maksudnya hehehe..) jadi deh ada alasan saya untuk memenuhi keinginan mencoba fasilitas dari Bus antar propinsi type baru yang sudah saya inginkan dari kemarin – kemarin. Tadinya sih mau coba berangkatnya tapi karena alasan waktu akhirnya saya memutuskan berangkat menggunakan Kereta Api yang kebetulan dapat kereta siang dan tiba di Surabaya jam 4 Subuh karena saya harus mengejar pesawat jam 9 pagi (Namanya Kereta Bangunkarta). Sedangkan jika naik bus saya baru akan tiba di Surabaya jam 7 pagi. Terlalu mepet untuk ngejar pesawat. Sekedar informasi, Bus Suite Class ini baru hanya ada 1x perjalanan setiap harinya di jam 6 sore dari Jakarta maupun dari Surabaya.

Singkat cerita, perjalanan menengok Om di Lombok telah selesai, saya berencana untuk kembali ke Jakarta hari Senin tanggal 10 Februari 2020. Saya kira beli tiket bus bisa kayak kereta atau pesawat, bisa H-1 sebelum keberangkatan. Yaa, saya memang kebiasaan membeli tiket perjalanan mepet biar seru aja hehehe. Ternyata hari minggu saya coba membeli tiket untuk hari senin sudah tidak bisa karena sudah full. Wahh banyak juga yaa peminatnya bus ini. Kapasitas 21 orang memang sedikit tapi saya gak menyangka akan banyak yang berminat. Akhirnya saya putuskan untuk membeli tiket untuk perjalanan hari Selasa, 11 Februari 2020. Disini kita akan mulai review satu persatu yaa untuk Suite Class Bus Sinar Jaya Group.

WhatsApp Image 2020-02-28 at 3.38.47 PM (1)

Harga tiket & Waktu Berangkat.

Menurut saya, kenapa bus ini banyak peminatnya adalah karena pasti banyak yang penasaran seperti apa sih bus ini di bandingkan dengan yang lainnya. Dengan harga yang relatif murah di bandingkan kereta yang memakan jarak tempuh sama tentunya banyak yang minat. Saya membeli tiketnya melalui aplikasi Traveloka dengan harga Rp. 425.000 masih lebih murah dari tiket kereta bahkan pesawat walaupun secara waktu lebih cepat pesawat sampainya. Pada voucer tiket tertera keberangkatan melalui terminal Bungurasih atau Purabaya jam 6 sore dan estimasi tiba di terminal Pulo Gebang jam 6 pagi.

Karena rumah saya dengan Bungur (Sebutan terminal bungurasih pada umumnya di Surabaya) tidak terlalu jauh hanya memakan waktu sekitar 20 menitan jadi saya memutuskan untuk jalan dari rumah sekitar jam setengah 5 cukup lah waktu menunggu disana 1 jam tidak terlalu lama.  Karena kondisi hujan pada saat itu, saya memutuskan untuk naik Grab car yang ternyata lebih lama di jalan karena kondisi jalan macet dan hujan. Pkl. 04.30 sore saya dari rumah dan baru sampai bungur pkl. 05.20. Mepet nih takutnya di tinggal. Untungnya Bus dengan pesawat beda tidak ada waktu check in dan masih bisa sampai jam mereka berangkat.

Sesampainya di bungur saya membeli camilan dulu untuk di perjalanan di minimarket yang ada di dalam terminal paling besar dan sibuk di Jawa Timur ini. Jaga-jaga biar gak kelaparan dan kehausan di jalan karena saya belum tau berapa kali berhenti dan dapat apa saja selama perjalanan. Setelah membeli amunisi saya langsung naik ke bagian atas terminal yang sekarang jadi akses semua penumpang ke tempat parkir bus. Kalau dulu semua lewat bawah jadi pasti harus nyempil – nyempil bus yang sedang lewat.

Sedikit review buat bungur yaa, saya udah lama banget gak ke terminal ini, mungkin terakhir 8 atau 9 tahun yang lalu. Sekarang beda banget. Udah bagus, bersih rapi tertata semua enak liatnya gak kerasa suram kayak dulu. Dulu semrawut banget. Banyak copet dan pasti berdesakan karena penumpang di perebutkan sama calo – calo. Sekarang saya sih gak ketemu calo sama sekali ya. Beberapa titik ada petugas berseragam yang bisa di jadiin tempat untuk bertanya ketika kebingungan. Saya juga sempat bertanya posisi parkir bus Sinar Jaya dimana dan langsung di arahkan oleh mereka. Saya tinggal menuju titik yang mereka arahkan dengan dan dengan mudah menemukan busnya.

Fasilitas & Pelayanan.

Saat sampai di tempat bus parkir, saya langsung menyapa salah satu petugas dan menyampaikan padanya bahwa saya penumpas bus ini. Tapi sama dia di suruh ke temennya yang ada di bagian depan bus. Saya samperin temennya sama temennya di suruh ke temennya yang tadi, lah kok malah di lempar – lempar hahahah… tapi yaa udah lah akhirnya saya di terima oleh petugas yang ada di depan bus dan dia meminta barcode pembelian yang saya dapat. Gak beberapa lagi keluar tiket dari mesin print kecil yang ada di pinggangnya. Sempat berpikir masih pakai kertas nih belum go green tapi yaa udah lah bukan masalah utama. Mungkin bus akan tetap menjadi transportasi masive traditional yang paling modern.

Setelah dapat tiket, saya di arahkan naik melalui pintu belakang. Jadi saat berangkat semua penumpang harus naik lewat pintu belakang dan sepatu atau sandalnya di lepas semua jadi deh nyeker di dalam bus. Biar gak bau mungkin hahaha. Sebelum naik petugas lain meminta saya untuk menaruh barang bawaan di bagasi bus karena di atas gak ada tempat barang kecuali kita pangku. Cuma karena saya pikir saya Cuma bawa 1 tas ransel dan 1 tas selempang kecil sapa memutuskan untuk membawa ke atas saja karena setelah di atas sebenernya ada tempat buat taruh tas di belakang kursi masing-masing Cuma resikonya adalah kursi kita tidak bisa terlalu di tidurin dan barang kita akan tertindih kursi. Karena saya pikir tas saya isinya Cuma baju yaa udah lah gak apa – apa dari pada di bawah.

Sesaat di atas sekilas terasa kenyamanan bus ini. Sangat cukup nyaman lah untuk transportasi penumpang jarak jauh di bandingkan dengan bus yang saya tahu selama ini. Mulai dari tidak di ijinkannya pakai sepatu atau sandal di dalam bus, semua di taruh di tempat khusus di bagian belakan bus dekat toilet, dan pastinya kita bisa setengah tiduran atau selonjoran. Ini oke banget sih karena di pesawat pun gak bisa begini kecuali naik kelas bisnis yang mahalnya gak keturutan hahaha.

Saya mendapatkan kursi No. 6. Sebenernya bisa milih sih Cuma pas beli saya lupa milih jadi dipilih random sama sistem untung dapat nomor 6 yang ada di bagian kiri bawah bus. Kalau di atas PR aja naiknya dan takut gak kuat hehehe. Sekedar informasi, pembagian kursinya adalah, Nomor genap di bawah dan nomor ganjil di atas. Urutannya adalah dari kiri (dekat pintu) kursi nomor 1 lanjut atasnya nomor 2, nomor 3 ada di atas sebelah kanan belakang supir dan nomor 4 ada di bawahnya begitu seterusnya.

Seperti halnya dengan saya, beberapa penumpang lain juga sepertinya baru pertama kali naik bus ini sehingga banyak yang bernarsis ria dengan ber-Selfie dan membuat video hahaha ini sebenernya bukan kampungan atau ndeso lho tapi ini lah budaya kita Indonesia.

Bicara suasana sih harus di rasakan sendiri saya Cuma bisa menggambarkan lewat kalimat dan foto yang saya lampirkan. Intinya nyaman banget sih buat jalan darat. Mobil pribadi aja kalah nyaman hahaha.

Sekarang kita bahas fasilitasnya yaa per kursi apa aja. Ada beberapa fasilitas yang di kasih setiap kursinya yang bisa di bilang tidak terlalu mewah tapi cukup membuat nyaman di perjalanan. Di Setiap kursi di berikan 1 bantal, 1 selimut, 1 botol tanggung air mineral, ada ac di masing – masing kursi, ada charger usb di samping deket jendela dan di monitor serta yang mungking memberikan kesan suite adalah monitor untuk menemani perjalanan dengan suguhan entertainmentnya. Kita bahas satu persatu yaa fasilitasnya. Oh yaa ini menurut review saya aja yaa mungkin tiap orang punya penilaian beda – beda.

Tempat duduknya cukup nyaman. Bahannya sama seperti naik bus lainnya yang biasa. Dan bisa di turunkan kebelakang juga sandarannya. Namun bedanya dengan bus biasa, disini kita tidak perlu khawatir akan mengganggu penumpang lain di belakang kita. Tempat duduk di desain dengan ruang masing-masing sehingga saat kita menurunkan sandaran belakang masih berada di ruang duduk kita. Saat perjalanan sangat nyaman karena kaki bisa di luruskan alias selonjoran. Dan menurut saya, yang saya bilang munkin badan saya tingginya masih di atas rata-rata orang Indonesia, kaki saya masih bisa lurus bahkan tidak menyentuh dinding ujung sehingga untuk orang yang lebih tinggi dari saya saya yakin 5-10 cm di atas saya masih cukup nyaman duduk disini.

Kenyamanan lainnya semua kursi di pinggir jendela jadi tidak perlu rebutan siapa yang di jendela atau di jalan. Selain itu ada sandaran untuk tangan dan khusus di bagian dekat jendela cukup lebar sehingga kita bisa menaruh barang kita seperti tas kecil, camilan atau air mineral. Sayangnya seperti yang saya ceritakan diatas tidak di perbolehkan menaruh tas besar sehingga menutup kaca.

Di setiap kursi di sediakan 1 bantal kecil, sebenarnya sih kurang terlalu berguna, karena kepala ketika di letakan di sandaran kursi sudah cukup nyaman. Tapi oke lah buat yang merasa kurang nyaman atau bisa jadi guling bagi yang terbiasa tidur dengan guling. Selain bantal di sediakan 1 selimut berbulu yang tidak tebal tapi cukup menghangatkan badan. Selimut berukuran untuk 1 orang.

Setiap penumpang mendapatkan 1 botol air mineral yang sudah tersedia di setiap kursinya. Jika kurang teman – teman bisa membeli sendiri untuk persedian sebelum bus berangkat atau saat istirahat makan.

Yang membedakan bus type suite ini dengan bus lainnya selain kursi adalah TV di setiap kursinya untuk dapat kita gunakan nonton film, mendengarkan music, membukan browser internet, bermain games dan lainnya. Film – film yang tersedia sebenarnya cukup bagus, tidak umum seperti saat di pesawat namun sayangnya hanya tersedia film luar negeri tidak ada film local. Kekurang nyamanan yang lain adalah saat menonton film adalah tidak adanya subtitle berbahasa Indonesia, yang tersedia hanya inggris dan china. Ini agak mengecewakan bagi penumpang yang kurang bahasa inggrisnya. Untuk aplikasi lainnya sih standart tergantung pada kesukaan masing – masing. Selain itu yang kurang adalah tersediannya browser internet tapi tidak ada akses untuk internet. Sangat di sayangkan seharusnya ini dapat menjadi fasilitas lebih di bandingkan bus yang lain.

Oh ya 1 lagi, di setiap kursi selain terdapat gorden atau tirai di bagian jendela, terdapat juga di bagian luar kursi yang ke jalan sehingga saat bus jalan bisa kita tutup dan kursi kita menjadi area private untuk kita dari penumpang yang lain.

Perjalanan.

Bus ini buat saya bener – bener nyaman. Kita tidak merasa capai di perjalanan darat dan tidak terasa seberapa jauh jarak yang di tempuh. Memang, jalur yang di gunakan adalah Tol Trans Java buatan Bapak Presiden Jokowi yang konon kata orang sangat mempersingkat waktu perjalanan dan menjadi salah satu alasan saya kenapa saya ingin mencoba menggunakan bus kembali ke Jakarta.

Seingat saya selama di perjalanan kami hanya berhenti sebanyak 2 kali. Yang pertama di rest area sekitaran madiun kalau tidak salah hanya untuk isi bensin saja dan tidak terlalu lama melanjutkan perjalanan lagi. Saya tidak terasa perjalanan karena di awal perjalanan saya asyik nonton film yang di sediakan dan sempat beberapa kali tertidur, mungkin karena posisi duduknya sangat PeWe yaa hehehe..

Saya terbangun pukul 22.00 saat lampu dalam bus menyala dan crew bus membangunkan seluruh penumpang untuk makan malam. Saya agak lupa di mana pastinya yang saya ingat di daerah Kendal sebelum semarang. Sekitaran situ lah. Saat akan turun, crew bus mengarahkan kami untuk turun lewat pintu depan. Awalnya saya agak bingung, kan sandal saya ada di belakang. Ternyata saat akan turun seluruh penumpang di berikan sandal satu – satu untuk di pergunakan. Bentuk sandalnya seperti sandal hotel persih dengan branding PO Sinar Jaya. Sebenernya agak aneh turun dengan sandal ini, karena sandal seperti sandal hotel kan sangat tipis sedangkan medan halam tempat makan adalah tanah berbatu dan semen. Setelah turun, kami di arahkan ke salah meja yang sudah tersedia makanan prasmanan disana. Saat mengantri petugas di rumah makan tersebut akan meminta kita menunjukan tiket print masing-masing yang di dapat saat di terminal dari crew bus. Pastikan kalian membawanya. Karena saya lupa tidak membawanya karena saya tidak tahu akhirnya saya harus kembali ke bus untuk mengambilnya hahaha.

Untuk makanan sebenernya tidak terlalu berbeda, bahkan menurut saya sama seperti makanan dengan bus lain. Sama seperti saat dulu ketika orang tua saya masih tinggal di Denpasar saat saya sering pulang ke Denpasar dari Surabaya menggunakan Bus Malam. Tapi yang tersedia itu gak mungkin kita tidak memakannya.

Selama kurang lebih 1 jam beristirahat disana untuk makan, merokok dan ke kamar kecil. Sekitar pukul 23.00 Bus melanjutkan perjalanan kembali. Mungkin di karenakan perut sudah terisi sehingga saat bus sudah mulai jalan mata saya berat banget karena mengantuk yang alhasil selama sisa perjalanan saya tertidur pulas. Meskipun beberapa kali terbangun tapi tidak membuat saya cukup sadar bus sudah sampai dimana.

Tiba – tiba lampu dalam bus menyala membuat saya terbangun namun belum sepenuhnya sadar karena saya piker ada yang turun di perhentian lain sebelum tujuan utama. Saya mencoba untuk menyadarkan diri karena saya liat hampir semua penumpah, eh gak.. ini semuanya, bersiap untuk turun. Saat saya mulai sadar ada orang di luar bus bilang dan meyakinkan saya bahwa kami sudah sampai di terminal Pulo Gebang. Saya berpikir kembali bukannya perhentian terakhir di Pulo Gadung ya. Sehingga saya bersantai di kursi saya. Sampai crew bus bilang bahwa ini adalah terminal terakhir. Lho.. kok terakhir? Sekali lagi saya baru pertama kali naik bus ini bahkan baru sekali ini naik bus ke Jakarta saya menjadi kebingungan. Saya tegur crew bus yang ada disitu dan menanyakan bahwa bukannya seharusnya tujunnya Pulo Gadung ya? Dia mengatakan bahwa tujuannya adalah Pulo Gebang, saya di minta untuk cek ulang tiket saya. Dan ternyata benar tujuan terakhirnya adalah Pulo Gebang. Betapa bodohya saya hahaha..Akhirnya saya turun dari bus dengan semua bawaan saya dan melihat jam menunjukan pkl. 04.00 pagi dengan kesimpulan bus ini menempuh jarak Semarang – Jakarta selama 5 jam. Wow cepat banget. Berarti total dari Surabaya menuju Jakarta di tempuh selama 10 jam.

Yang saya tau sekarang adalah, Sinar Jaya Suite Class bus ini akan menjadi salah satu pilihan saya untuk pulang ke Surabaya jika harga pesawat dan kereta menggila atau kehabisan tiket.

Terimakasih Sinar Jaya atas pengalaman yang di berikan selama perjalanan. Semoga fasilitasnya lebih bisa di kembangin dan unit nya bisa di tambah.

Jakarta, 28 Februari 2020.